Kamis, 26 Maret 2015

SAHABATKU



SAHABATKU

Oleh : Nurul Hidayah

Masa-masa SMP adalah masa yang tidak bisa ku lupakan. Bertemu dengan kawan-kawan baik yang selalu ada di sisiku, terutama Ida dan Sita. Kami selalu bersama dalam suka dan duka. Misalnya, waktu dulu ketika ujian berlangsung, Ida sedang sakit, dan aku selalu siap menemaninya ke dokter. Begitu juga dengan dia yang selalu membantuku jika aku sedang bersusah hati.
Hari demi hari setelah ujian, waktu yang ku tunggu-tunggu sekaligus kutakuti, Perpisahan sekolah membuatku sangat sedih karena aku harus berpisah dengan teman-temanku yang baik hati dan juga ramah. Saking terbawa suasana haru biru perpisahan itu, Sita, sahabatku, sampai pingsan karena menangis. Ku seka air mataku, tapi kurasa itu sia-sia, air mata terus membajiri pipiku. Aku berkata “Bagaimana kita bertemu lagi?”, sambil terisak, juga memeluk tubuh Ida. Lalu Ida menjawab, “Yang sabar, Waktu dan ruang tidak akan bisa memisahkan persahabatan kita,kok.” Kemudian Sita datang, nampaknya ia sudah sadar dari pingsannya beberapa menit yang lalu, ia langsung duduk di kursi sampingku, mengeluskan tangannya ke bahuku, berusaha menenangkan. “Kamu kenapa kawan?” tanya Sita kepadaku, “Dia lagi sedih karena kita tidak bisa bersama lagi.” Sahut Ida. “Sudah jangan pikirkan itu. Kan kalau waktu sekolah pulang pagi atau libur sekolah bisa berkumpul lagi.” Kata Sita dengan ceria, berusaha menenangkanku. “Bukan begitu, teman-teman. Aku sangat membutuhkan kalian. Hampir 3 tahun bersama, hampir setiap hari pula, mengapa waktu begitu cepat memisahkan kita? Karena kalian adalah semangatku. Saat aku bersedih, hanya kalian yang ada di sisiku. Hanya kalian tempat aku mencurahkan kesedihanku, tapi kenapa kita sudah berpisah secepat ini?!” jawabku, agak histeris. Ida dan Sita hanya mengelus-elus punggungku.
Aku tidak mengerti kenapa aku begitu histeris kali ini, mungkin mengingat kenyataan bahwa nanti aku harus bertemu dengan teman-teman baru di SMA, dan juga harus memulai adaptasi sekali lagi. Aku takut dengan tidak adanya Ida dan Sita di sisiku, aku akan merasa kaku dan kesepian.
Setelah perpisahan selesai, waktunya kami pulang.Aku tidak ingin melewatkan hari itu dengan cepat, apalagi jika sudah bersama Ida dan Sita, lebih baik aku menghabiskan waktu bersama mereka hari itu selagi bisa. “Kita sudah berteman hampir 3 tahun, kita tidak boleh melupakan masa-masa indah waktu kita SMP. Apalagi melupakan sesama temannya sendiri, kita hanya bisa berdoa dan biar kita diberi sehat serta bisa memasuki sekolah favorit untuk mencapai cita-cita kita. Berjanjilah padaku, bahwa kalian tidak akan melupakanku.” Kata Ida, ia tersenyum hangat. “Ya, aku janji. Asalkan kamu juga jangan lupain aku.” Ucapku menyetujui, “Aku juga!” timpal Sita sambil tersenyum ceria.
****
Dan sekarang aku benar-benar memegang janjiku, aku tidak akan pernah melupakan mereka, yang telah menjadikan masa SMP-ku lebih berwarna. Teman-teman yang senantiasa membangkitkanku ketika jatuh, menangis bersamaku ketika aku sedih, dan tertawa bersama saat kami bahagia. Sita dan Ida, mereka adalah anugerah terbaik yang diberikan Tuhan kepadaku sejauh ini. Sosok mereka tidak akan pernah tergantikan dalam memori persahabatan. Aku sayang kalian, Sahabatku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar