KESAKITANKU
KEHIDUPANKU
Pagi yang cerah menyambut semangat seorang gadis
remaja yang sekarang tengah mengumpulkan energi untuk untuk mengikuti upacara
yang selalu diadakan setiap hari Senin. Nisa, gadis terlihat ceria dengan
senyumanya itu seperti tidak menunjukan penderitaan dalam kehidupannya selama
ini. Namun kenyataan berbanding terbalik dengan keceriaannya. Kehidupan Nisa
berubah setelah ia mengidap penyakit Diabetes yang bersarang ditubuhnya sejak 6
tahun yang lalu. Hari-harinya ditemani dengan setiap tusukan-tusukan jarum suntik
serta pahitnya obat-obatan yang yang mampu membuatnya bertahan hidup. Rasa
sakit yang ia rasakan selama ini menbuatnya tidak punya pilihan lain selain,
mengonsumsi obat-obatan serta menusukan jarum suntik ketubuhnya setiap hari.
Nisa berbaris dibarisan tengah diantara
teman-temannya. Nisa memang tidak terlalu unggul dalam pelajaran, namun karena
kebaikannya ia memiliki banyak teman yang selalu menemaninya dan memberinya
semangat hidup. Semangat Nisa tak bertahan lama. Saat upacara berlangsung, Nisa
kehilangan konsentrasi, tubuhnya terasa berputar-putar namun Nisa terus mencoba
menjaga keseimbangannya, tangannya mencoba meraih sesuatu tetapi taksampai.
Akhirnya Nisa kehilangan kesadaran, tubuhnya terbaling lemas ditengah lapangan,
beberapa teman segera menolong dan membawanya keruang uks.
Hampir sepuluh menit Nisa belum juga sadar dari
pingsannya, nisa memang sering pingsan tapi tidak pernah sampai selama ini.
Karena khawatir dengan keadaan Nisa, guru petugas uks membawa Nisa kerumah
sakit yang sering Nisa kunjungi. Dokter disana sudah sangat mengenal Nisa
karena, Nisa sudah menjadi pasien tetap dirumah sakit itu.
Nisa mulai tersadar dari komanya, matanya terus
mengerjab-ngerjab, menelit setiap sudut ruangan yang tak asing di matanya.
Setelah kesadarannya terkumpul dia merasakan tubuhnya yang telah terhubung
dengan beberapa selang yang tak ingi ia hitung jumlahnya. Mata Nisa ulai
berkaca-kaca saat tubuhnya merasakan sakit yang luar biasa. Mulutnya terlihat
mengucap sesuatu diiringi tangannya yang bergerak-gerak seakan memanggil
seseorang. Nisa sadar suaranya tak dapat didengar oleh siapapun. Nisa menyerah
dan diam sambil memandangi jam dinding yang menunjukan pukul 01.15. dengan
keadaan sekitar yang sunyi senyap menunjukkan hari sudah malam dan waktunya untuk
orang-orang beristirahat. Nisa mencoba kembali menutup matanya untuk bisa
tertidur dan melupakan rasa sakit yang ia rasakan. Namun matanya seakan enggan
untuk terpejam, seolah-olah ia sudah tidur dalam waktu yang lama.
Riuhnya pagi membuat senyum Nisa terbentuk kembali,
meski semalaman ia terjaga sambil terus menahan rasa sakitnya. Energinya mulai
terkumpul, tangan Nisa yang terhubung dengan selang infus mencoba meraih tangan
ibunya yang semalaman tertidur di samping ia berbaring. Ibu Nisa terbangun dari
tidurnya. Nisa memperlihatkan senyumnya kearah ibu yang sangat ia sayangi, Ibu
memandangi Nisa sambil menitikan air mata bahagianya, ibunya bersyukur akhirnya
putri kesayangannya terbangun setelah dua hari mengalami masa kritis. Setelah
melihat senyum bahagia dari ibunya, Nisa telah melupakan rasa sakit ditubuhnya.
Setelah beberapa hari Nisa melewati
masa pemulihan, setelah kondisinya kritis dan koma, akhirya Nisa diperbolehkan
untuk pulang kerumahnya. Wajah ceria Nisa kembali terlihat meski ia menyadari
kondisinya tidak begitu baik. Namun ia akan terus menunjukkan kebahagiaannya
kepada semua orang yang mengenalnya, termasuk keluarga dan teman-temannya, yang
kini menyambut kepulangan Nisa dari rumah sakit. Meski ia telah keluar dari
rumah sakit bukan berarti Nisa tidak akan kembali kerumah sakit. Justru ia
harus sering-sering kerumah sakit untuk mengontrol kesehatannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar