IMPOSSIBLE
Oleh : Anisa Sandra
Lencana
Udarapagi yang
dinginmasihdapatkurasakan di kulittubuhku yang
sudahdilapisidenganjakettebal.Akumenelusurijalan yang sangatasingdimataku,
ditemanidenganterpaanangin di musimdingin. Akumemandangluassekitarkuyang dipenuhidenganwarna-warnibunga
yang bermekarandanrerumputanhijau yang tumbuhluasmelapisitanah.
HinggaAkumenyadariseseorang yang
memakaibajuberwarnaserbaputihsedangberdirimenatapkudarijauh.
PerlahanAkuberjalanmendekatinya, dannampaksebuahsenyuman tipis terukir di
bibirnya, memperjelaswajah yang sangatakukenal.
Akumemberanikandiriuntukmenyapanya, dengantatapantidakpercaya, Ia pun
membalaskudenganramah, memperjelassuara yang hampirkudengarsetiaphari. Dan
tanpaAkusadari, sudahada 10 orang yang berjajarrapidenganbaju yang
samaberdiritidakjauhdaritempatkuberdiri. Dengantatapan yang masihtidakpercaya,
tapitidakdiragukanlagi, Akuyakininimemangmeraka. Bukansenanglagi,
iniadalahimpianku, Akubertemudengan SUPER JUNIOR,
idolaku.Akumasihmenatapwajahmerekadalam, dansebuahtanganhangatkinimenggenggamtanganku,
mengajakkuuntukberjalan. Kami
berjalanmenelusuritempat yang akuyakinibukan di negaraku.
Tidakadamusimdingindisana,tapi yang Akurasakandisinidingin,
sangatdingin.Tidakpedulisedinginapapun yang akurasakan, sudahtidakterasalagidengankeberadaanmereka,
Super Junior, yang saatinisedangbersamaku.
***
Diluar kesadaranku, Aku mendengar suara
ibuku yang tengah memanggilku membuatku tersadar dari mimpi tidur siangku. Aku
mengerjapkan mataku berkali-kali. Dimana ini? Nyawaku belum terkumpul
seutuhnya. Tempat tidur, meja, lemari, poster Super Junior. Eh? Ini kamarku.
Dan telapak tanganku, seolah masih bisa kurasakan genggaman tangan tadi,
seperti nyata. “Jadi, Aku bertemu Super Junior itu hanya mimpi?” batinku kesal.
Aku menatap poster besar Super Junior yang menempel di dinding kamarku, dengan
tersenyum. “Haha... sangat tidak mungkin bisa bertemu dengan kalian,
Impossible!” gumamku, menatap satu per satu wajah tampan mereka.
***
Namaku Anisa, seorang murid
SMA biasa, di salah satu SMA Negeri Gondangrejo, Jawa Tengah. Umurku 15 tahun
dan Aku duduk di kelas X. Aku tidak punya prestasi yang dapat dibanggakan. Aku
sangat menyukai musik dan lagu-lagu luar, salah satunya dari Korea Selatan atau
sering disebut K-pop. Aku mulai menggemari K-pop sejak kelas 5 SD atau lebih
dikenal sebagai K-poper. Selama ini musik K-pop sudah banyak memberiku motivasi
dan Inspirasi, bisa dibilang musik adalah bagian dari hidupku. Kedengarannya
berlebihan, tapi memang begitu keadaannya. Hampir semua lagu di handphone ku
adalah K-pop dan sudah pasti setiap hari Aku mendengarkannya. Bahkan acara tv
yang aku tonton hanya acara-acara yang berhubungan dengan Korea, seperti drama korea dan acara musik Korea
yang tayang di tv Indonesia, hampir jarang mengikuti acara tv seperti sinetron
indonesia. Salah satu grup idol Korea yang paling kusuka adalah Super Junior,
kelompok beranggotakan 11 orang laki-laki. Leeteuk, Eunhyuk, Donghae, Sungmin,
Siwon, Kyuhyun, Yesung, Ryeowook, Kangin, Heechul, Shindong, adalah member Super
Junior. Dan salah satu anggota favoritku adalah Lee Hyuk Jae atau yang akrab
dipanggil Eunhyuk, seorang Leader Dance sekaligus rapper di Super Junior.
Julukannya adalah Dance Machine of Super
Junior.
Aku sangat menyukai Eunhyuk, Aku sangat
mencintainya. Cinta seorang penggemar kepada idolanya, atau mungkin lebih dari
itu. Aku ingin bertemu dengannya, berteman dengannya, kalau bisa Aku ingin
menjadi pacarnya. Hahaha, tidak, Aku tahu itu tidak mungkin. Aku sadar Aku sangat
berbeda, beda status, umur, pokoknya semuanya berbeda. Dia adalah seorang idol
terkenal di Asia bahkan dunia dan aku hanyalah siswi SMA biasa. Umur kami
berbeda 14 tahun. Dia berbicara dengan bahasa korea, aku berbicara dengan
bahasa Indonesia. Dia seorang idola yang dipuja-puja, sedangkan aku hanya seorang
penggemar yang bahkan tidak dikenalnya.
Terkadang aku merasa sedih
dan marah ketika harus menerima kenyataan bahwa, Aku hanya bisa melihat mereka
di rumah. Kurang puas rasanya, melihat wajah mereka yang tampan, mendengar
suara mereka yang merdu, hanya lewat tv. Kalau saja Aku terlahir di keluarga
kaya, mungkin Aku bisa menonton setiap konser mereka, menatapnya langsung,
bahkan pergi ke korea untuk bertemu langsung. Tapi kenyataannya berbeda,
bertemu langsung dengan Super Junior. Super Junior adalah impian yang mustahil.
Menabung untuk membeli tiket konsernya pun, aku tidak bisa melakukannya. Andai
saja ada orang yang ingin memberiku hadiah. Aku tidak mau hadiah apapun dari
orang lain, Aku hanya minta satu hadiah saja yaitu bertemu dengan idolaku,
Super Junior. Aku tahu semua itu tidak mungkin terjadi, sangat Impossible. Bisa
bertemu dengan mereka itu sangat sulit, cukup sebatas mimpi. Menyedihkan bukan?
Satu kata untukku saat ini....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar