SAHABATKU
Oleh : Nurul Hidayah
Masa-masa SMP adalah masa yang tidak bisa ku lupakan.
Bertemu dengan kawan-kawan baik yang selalu ada di sisiku, terutama Ida dan
Sita. Kami selalu bersama dalam suka dan duka. Misalnya, waktu dulu ketika
ujian berlangsung, Ida sedang sakit, dan aku selalu siap menemaninya ke dokter. Begitu juga
dengan dia yang selalu membantuku jika aku sedang bersusah hati.
Hari demi hari setelah ujian, waktu yang ku
tunggu-tunggu sekaligus kutakuti, Perpisahan sekolah membuatku sangat sedih
karena aku harus berpisah dengan teman-temanku yang baik hati dan juga ramah. Saking
terbawa suasana haru biru perpisahan itu, Sita, sahabatku, sampai pingsan
karena menangis. Ku seka air mataku, tapi kurasa itu sia-sia, air mata terus
membajiri pipiku. Aku berkata “Bagaimana kita bertemu lagi?”, sambil terisak,
juga memeluk tubuh Ida. Lalu Ida menjawab, “Yang sabar, Waktu dan ruang tidak
akan bisa memisahkan persahabatan kita,kok.” Kemudian Sita datang, nampaknya ia
sudah sadar dari pingsannya beberapa menit yang lalu, ia langsung duduk di
kursi sampingku, mengeluskan tangannya ke bahuku, berusaha menenangkan. “Kamu
kenapa kawan?” tanya Sita kepadaku, “Dia lagi sedih karena kita tidak bisa
bersama lagi.” Sahut Ida. “Sudah jangan pikirkan itu. Kan kalau waktu sekolah
pulang pagi atau libur sekolah bisa berkumpul lagi.” Kata Sita dengan ceria,
berusaha menenangkanku. “Bukan begitu, teman-teman. Aku sangat membutuhkan kalian.
Hampir 3 tahun bersama, hampir setiap hari pula, mengapa waktu begitu cepat
memisahkan kita? Karena kalian adalah semangatku. Saat aku bersedih, hanya
kalian yang ada di sisiku. Hanya kalian tempat aku mencurahkan kesedihanku,
tapi kenapa kita sudah berpisah secepat ini?!” jawabku, agak histeris. Ida dan
Sita hanya mengelus-elus punggungku.
Aku tidak mengerti kenapa aku begitu histeris kali
ini, mungkin mengingat kenyataan bahwa nanti aku harus bertemu dengan
teman-teman baru di SMA, dan juga harus memulai adaptasi sekali lagi. Aku takut
dengan tidak adanya Ida dan Sita di sisiku, aku akan merasa kaku dan kesepian.
Setelah perpisahan selesai, waktunya kami pulang.Aku
tidak ingin melewatkan hari itu dengan cepat, apalagi jika sudah bersama Ida
dan Sita, lebih baik aku menghabiskan waktu bersama mereka hari itu selagi bisa.
“Kita sudah berteman hampir 3 tahun, kita tidak boleh melupakan masa-masa indah
waktu kita SMP. Apalagi melupakan sesama temannya sendiri, kita hanya bisa
berdoa dan biar kita diberi sehat serta bisa memasuki sekolah favorit untuk
mencapai cita-cita kita. Berjanjilah padaku, bahwa kalian tidak akan
melupakanku.” Kata Ida, ia tersenyum hangat. “Ya, aku janji. Asalkan kamu juga
jangan lupain aku.” Ucapku menyetujui, “Aku juga!” timpal Sita sambil tersenyum
ceria.
****
Dan sekarang aku benar-benar memegang
janjiku, aku tidak akan pernah melupakan mereka, yang telah menjadikan masa
SMP-ku lebih berwarna. Teman-teman yang senantiasa membangkitkanku ketika
jatuh, menangis bersamaku ketika aku sedih, dan tertawa bersama saat kami
bahagia. Sita dan Ida, mereka adalah anugerah terbaik yang diberikan Tuhan
kepadaku sejauh ini. Sosok mereka tidak akan pernah tergantikan dalam memori
persahabatan. Aku sayang kalian, Sahabatku.
