Rabu, 25 Maret 2015

LOVE IN EYES



LOVE IN EYES
Oleh : Muthia Putri Meilania


Seorang gadis berparas manis sedang duduk di tepi dermaga, mata coklat kelabunya memandangi sekitar dengan pandangan kosong, tongkat sepanjang tujuh puluh senti meter bersandar di sisinya. Gadis itu tersenyum, matanya menutup ketika menarik nafas lalu menghembuskannya secara perlahan, seolah-olah udara segar di tempat yang penuh air segar mengalir dan perahu-perahu sampan itu tidak cukup untuk memuaskan dirinya. “Permisi, nona, apa anda tahu dimana alamat ini?” tanya sebuah suara tiba-tiba, gadis itu membuka matanya, dan tampaklah seorang lelaki yang seumuran dengannya, mengenakan pakaian ala berpergian lengkap dengan tas travel hitam yang cukup besar. Lelaki itu menyodorkan secarik kertas bertuliskan alamat ke hadapan wajah sang gadis, tetapi gadis itu tetap menatap lurus dengan pandangan kosong. “ Kau pendatang baru di Venice? Siapa namamu?” tanya gadis itu dengan aksen italia yang lumayan kental. Lelaki itu membentuk ekspresi bingung di wajah, “mm, ya, namaku Dylan Bladmer dari Sidney. Aku ingin mengunjungi pamanku yang tinggal disini.” Jawabnya, yang berganti menggunakan bahasa informal ketika gadis itu juga menggunakannya. “Oh. Aku Clarisa,” balas gadis itu sambil menjulurkan tangannya ke depan untuk bersalaman, Dylan yang langsung mengetahui maksud Clarisa, segera meraih tangan Clarisa yang arahnya agak melenceng dari posisi Dylan berada, getaran aneh menjalar di tubuh Dylan, seperti terkena kejutan listrik bertegangan rendah ketika tangannya dan tangan Clarisa bertemu,  “Bisakah kau membacakan alamat yang kau tanyakan? Aku tidak bisa membacanya.” Lanjutnya. Dylan terkejut, “Apa kau tidak bisa membaca?” tanyanya. “Tidak, bukan itu. Aku buta. Tapi aku lumayan mengerti alamat-alamat disini,kok.” Jawab Clarisa sambil menyunggingkan senyum manisnya yang berhasil membuat jantung Dylan berhenti berdetak sepersekian detik. Tapi kenyataan Clarisa buta membuatnya mengabaikan hal itu, ia masih terkejut. Clarisa buta? Gadis cantik yang malang, pikirnya. “Dylan, apa kau masih disana?” tanya Clarisa tiba-tiba, membuyarkan lamunan Dylan. “Oh—iya. Aku masih disini. Mm, Kau tahu Volkware street Blok9E no.11? tepatnya, di perumahan Whitterlock.” Tanya dylan agak kikuk. “Tentu saja. Aku juga tinggal di sekitar sana. Kebetulan aku juga mau pulang, kau bisa pergi bersamaku,” jawab Clarisa, “itu kalau kau tidak keberatan jalan sama orang buta.”  Cepat-cepat ia menambahkan, sedikit terkekeh. “Oh, jangan seperti itu, Clay. Aku akan sangat berterima kasih jika kau mau mengantarku.” Jawab Dylan. “Clay?” tanya Clarisa bingung, “Oh itu maksudku, satu suku kata lebih baik daripada tiga,kan? Nama Clarisa terlalu panjang.”  Jawab Dylan, yang dibalas dengan anggukan Clarisa. Lalu, Clarisa mengambil tongkatnya dan segera naik ke perahu sampan untuk penyebrangan­—dengan bantuan Dylan—yang selalu tersedia di sepanjang sungai di Venice. Dan mereka pun menyusuri sepanjang sungai.  “Kau lihat rumah-rumah di sekitar sini? Carilah alamatmu.” Kata Clarisa ketika turun dari perahu sampan. “Terimakasih. Clay, dimana rumahmu?” kata-kata itu tiba-tiba meluncur dari mulut Dylan, sebelum ia menyadari apa yang ia katakan, Clarisa sudah menjawab, “Di ujung perumahan ini. Terakhir kali aku bisa melihat, warna catnya kuning pastel kalau gak salah. Mampirlah jika ada waktu.”
Hari-hari kemudian mereka jalani bersama sejak pertemuan pertama itu, Dylan dan Clarisa menjadi sepasang sahabat. Clarisa yang selalu merasa kesepian sejak kecelakaan 2 tahun lalu yang menyebabkan kedua matanya buta, merasa terobati dengan kehadiran Dylan yang tak pernah bosan mendengar keluh kesah Clarisa. Tapi bagaimanapun, Clarisa tak ingin menumbuhkan harapan dalam hatinya. Perasaan nyaman di sisi Dylan membuatnya bahagia sekaligus tersiksa, karena ia semakin tak ingin kehilangan Dylan. Pikir Clarisa, Dylan adalah lelaki yang baik-baik dan harus bersama gadis yang baik-baik pula, bukan gadis buta seperti dirinya. Kisah-kisah yang ia ceritakan kepada Dylan hanya sekedar untuk mengeluarkan batu ganjalan yang membebani hatinya, karena ia percaya bahwa Dylan dapat menampungnya dengan baik. “Kau menghadapi penderitaan seperti itu sendirian?” Tanya Dylan setelah Clarisa selesai bercerita. “Mau bagaimana lagi? Hanya aku yang memiliki kenangan buruk itu.” Jawab Clarisa tenang. “Kecelakaan dua tahun lalu yang membuatmu kehilangan penglihatan dan kedua orangtuamu. Jika aku ada di posisimu, aku tidak tahu apakah aku bias bertahan dengan hal seperti itu. Kau sungguh hebat. Tapi, Clay, tahukah kau? Teman bias membawa beban itu bersamamu, menjadi lebih ringan tentunya.” Kata Dylan. “Teman? Sejak aku buta, aku tidak memiliki dan tak ingin memiliki teman.” Balas Clarisa, seraya tersenyum miris. “Lalu, kenapa kau mau berteman denganku?” Tanya Dylan lagi. Clarisa terdiam sesaat, lalu menjawab, “Karena aku, percaya padamu.” Dylan terdiam, Clarisa juga melakukan hal yang sama. Sesaat selama lima belas menit yang sunyi, mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.
“Clay, aku… aku menyukaimu.” Kata Dylan hati-hati memecah kesunyian. “Bercandamu tidak lucu, Dylan.” Jawab Clarisa sambil terkekeh paksa. “Aku serius, Clay! Aku ingin kau bahagia di sisiku.” Balas Dylan. Senyum Clarisa memudar, “Tidak, Dylan. Jangan mencintai gadis buta sepertiku, Kau pantas mendapat yang lebih baik dariku.” Kata Clarisa, tubuhnya yang mungil bergetar karena menahan tangis. “Kau adalah yang terbaik yang  Tuhan berikan kepadaku sejauh ini. Clarisa, kau bilang kau percaya padaku,kan? Jadi, sekali ini saja, percayalah bahwa aku ingin membuatmu bahagia entah bagaimanapun caranya. Aku akan melakukan yang kubisa, dan… Aku akan pulang ke Sidney, sudah cukup waktuku untuk mengunjungi Paman Ferdinan. Aku akan berangkat besok.” Kata Dylan dengan lembut, buliran bening menyembul dari balik kelopak mata birunya yang indah. “Apa kau akan kembali?” Tanya Clarisa. “Aku tidak tahu. Tapi yang pasti, kau bisa mengabariku. Bawalah ini, lihatlah ketika kau sudah bisa melihat lagi, dan jangan pernah merasa menderita selama aku pergi. Kumohon.” Pinta Dylan, sambil menaruh selembar potret dirinya dan Clarisa yang diambil beberapa waktu lalu di tangan Clarisa. Clarisa menggenggamnya erat-erat.
Sebulan kemudian, Clarisa menatap refleksi dirinya dalam cermin, tersenyum bahagia ketika mengingat bahwa ia sudah dapat melihat lagi. Matanya yang semula coklat kelabu kini berganti menjadi sepasang mata biru yang indah milik sang pendonor. Dalam hati, ia tak henti-hentinya berterima kasih kepada seseorang yang rela mendonorkan mata untuknya yang bahkan tidak dikenalnya. Kini, ia dapat melihat wajah tampan Dylan dalam foto itu.
Suara bel pintu mengalihkan perhatian Clarisa dari cermin. Ketika membuka pintu, berdirilah seorang pria paruh baya berseragam kantor pos. “Dengan Nona Clarisa Jean Weinberg?” Tanya Tukang pos itu, membaca nama yang tertera diatas tutup kotak berukuran sedang di tangannya. “Ya. Saya sendiri.” Jawab Clarisa heran. “Ada kiriman dari Sidney. Tolong tanda terimanya.” Kata Tukang pos itu dan pergi setelah Clarisa menandatanganinya.
Clarisa membuka kotak itu dan menemukan sekeping kaset di dalamnya, bertuliskan “Dari Dylan Tertampan”. Clarisa tersenyum, ia sudah lama sekali menantikan kabar dari Dylan dan ia juga tidak sabar mengabari Dylan tentang kesembuhan matanya. Tetapi ia masih heran, untuk apa Dylan mengiriminya kaset ini. Dimasukannya kaset itu ke dalam VCD player. Dan lambat laun, muncullah foto Dylan dan dirinya, dibawahnya tertulis “Untuk yang terjelek, Clarisa”. Entah kenapa tiba-tiba ada persaan tidak enak merajai seluruh tubuhnya. Layar berganti menampilkan sosok Dylan dalam video, lebih kurus dan terlihat lelah serta pucat, tetapi benar-benar Dylan seperti dalam foto yang di genggam Clarisa.

Halo, Clay! Merindukanku? Hehe. Bagaimana dengan mata barumu? Aku yakin kau pasti sangat bahagia saat ini. Sudah lihat wajah tampanku di foto?” Tanya Dylan, memulai monolognya. Clarisa tertawa kecil melihatnya bergurau. “Clay, sebelum aku mengatakan apa yang ingin aku katakana kepadamu, aku ingin kau tahu bahwa aku sangat, sangat, sangat merindukanmu.” Kata Dylan, mulai serius.
Dengar, Clay, Awal aku datang ke Venice, aku sudah menyadari bahwa aku tidak akan lama, karena vonis dokter menyatakan bahwa aku mengidap Leukimia stadium akhir. AKu fikir sudah tidak ada gunanya lagi melakukan pengobatan, jadi aku memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan mengunjungi sanak saudaraku yang kusayangi, termasuk Paman Ferdinan di Venice, yang kusuruh mengirimkan video ini padamu,mungkin lewat pos. Tapi aku tidak pernah menyadari bahwa kedatanganku ke Venice malah membuatku mendapatkan lebih dari yang ku harapkan di akhir hidupku yaitu,  aku bisa merasakan cinta, Clay. Terlebih itu kepadamu. Ketidak bahagiaanmu justru membuatku merasa tidak berguna ada di sisimu saat itu, apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu bahagia? Jadi, Clay, kau bukan satu-satunya orang yang menderita disini, aku akan menemanimu. Jadi mari kita akhiri ini semua. Kau harus mendapatkan kembali penglihatanmu agar kau bahagia, dan aku ingin bahagia dengan membuatmu bahagia. Hanya itu yang mungkin bisa kulakukan. Sayangnya, Aku tidak bisa menemuimu lagi karena waktuku tidak banyak. Mungkin aku sudah tiada ketika kau menonton video ini. Tapi aku sudah meninggalak sebagian diriku dalam dirimu, yaitu persahabatan kita yang tulus yang kubawa sampai akhir hayatku… dan mataku. Aku ingin kau berjanji satu hal, jangan gunakan mataku untuk menangis. Seperti yang dulu kubilang, Kau tidak boleh menderita selama aku pergi. Jadi, jangan menderita selamanya. Kau harus bahagia. Aku harap aku dapat bertemu dengamu lagi di surga suatu saat nanti.” Video itu berakhir.
Air mata Clarisa tumpah, ia tidak sanggup berkata apa-apa lagi. Ia ingin menjerit histeris tapi seolah-olah mulutnya terkunci rapat. Clarisa tersadar betapa bodohnya ia membiarkan Dylan jauh darinya di saat terkahirnya. Ia tak pernah menyangka bahwa akhirnya orang yang ia cintai itulah sang pemilik bola mata biru yang sekarang ada dalam dirinya. Clarisa ingin terus menyalahkan dirinya yang egois karena berfikir bahwa ia satu-satu orang yang menderita, ia tersadar selama ini ia tidak pernah mendengar satu kisah pun tentand Dylan karena selama ini Clarisa yang banyak menceritakan kisah hidupnya pada Dylan. Tapi kemudian ia teringat permintaan terakhir Dylan.  Aku harus bahagia, pikir Clarisa. Mungkin hanya itulah yang bisa Clarisa lakukan, menjadi bahagia agar Dylan juga bahagia di jauh sana. Clarisa mengusap air mata yang masih membanjiri pipinya. Ia termenung sesaat, mulai saat itu ia meyakini bahwa Persahabatan adalah kata lain dari Cinta. SELESAI.



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar