LOVE IN EYES
Oleh :
Muthia Putri Meilania
Seorang gadis berparas
manis sedang duduk di tepi dermaga, mata coklat kelabunya memandangi sekitar
dengan pandangan kosong, tongkat sepanjang tujuh puluh senti meter bersandar di
sisinya. Gadis itu tersenyum, matanya menutup ketika menarik nafas lalu
menghembuskannya secara perlahan, seolah-olah udara segar di tempat yang penuh
air segar mengalir dan perahu-perahu sampan itu tidak cukup untuk memuaskan
dirinya. “Permisi, nona, apa anda tahu dimana alamat ini?” tanya sebuah suara
tiba-tiba, gadis itu membuka matanya, dan tampaklah seorang lelaki yang seumuran
dengannya, mengenakan pakaian ala berpergian lengkap dengan tas travel hitam
yang cukup besar. Lelaki itu menyodorkan secarik kertas bertuliskan alamat ke
hadapan wajah sang gadis, tetapi gadis itu tetap menatap lurus dengan pandangan
kosong. “ Kau pendatang baru di Venice? Siapa namamu?” tanya gadis itu dengan
aksen italia yang lumayan kental. Lelaki itu membentuk ekspresi bingung di
wajah, “mm, ya, namaku Dylan Bladmer dari Sidney. Aku ingin mengunjungi pamanku
yang tinggal disini.” Jawabnya, yang berganti menggunakan bahasa informal
ketika gadis itu juga menggunakannya. “Oh. Aku Clarisa,” balas gadis itu sambil
menjulurkan tangannya ke depan untuk bersalaman, Dylan yang langsung mengetahui
maksud Clarisa, segera meraih tangan Clarisa yang arahnya agak melenceng dari
posisi Dylan berada, getaran aneh menjalar di tubuh Dylan, seperti terkena
kejutan listrik bertegangan rendah ketika tangannya dan tangan Clarisa
bertemu, “Bisakah kau membacakan alamat
yang kau tanyakan? Aku tidak bisa membacanya.” Lanjutnya. Dylan terkejut, “Apa
kau tidak bisa membaca?” tanyanya. “Tidak, bukan itu. Aku buta. Tapi aku
lumayan mengerti alamat-alamat disini,kok.” Jawab Clarisa sambil menyunggingkan
senyum manisnya yang berhasil membuat jantung Dylan berhenti berdetak sepersekian
detik. Tapi kenyataan Clarisa buta membuatnya mengabaikan hal itu, ia masih
terkejut. Clarisa buta? Gadis cantik yang malang, pikirnya. “Dylan, apa kau
masih disana?” tanya Clarisa tiba-tiba, membuyarkan lamunan Dylan. “Oh—iya. Aku
masih disini. Mm, Kau tahu Volkware street Blok9E no.11? tepatnya, di perumahan
Whitterlock.” Tanya dylan agak kikuk. “Tentu saja. Aku juga tinggal di sekitar
sana. Kebetulan aku juga mau pulang, kau bisa pergi bersamaku,” jawab Clarisa,
“itu kalau
kau tidak keberatan jalan sama orang buta.”
Cepat-cepat ia menambahkan, sedikit terkekeh. “Oh, jangan seperti itu,
Clay. Aku akan sangat berterima kasih jika kau mau mengantarku.” Jawab Dylan.
“Clay?” tanya Clarisa bingung, “Oh itu maksudku, satu suku kata lebih baik
daripada tiga,kan? Nama Clarisa terlalu panjang.” Jawab Dylan, yang dibalas dengan anggukan
Clarisa. Lalu, Clarisa mengambil tongkatnya dan segera naik ke perahu sampan
untuk penyebrangan—dengan bantuan Dylan—yang selalu tersedia di sepanjang
sungai di Venice. Dan mereka pun menyusuri sepanjang sungai. “Kau lihat rumah-rumah di sekitar sini?
Carilah alamatmu.” Kata Clarisa ketika turun dari perahu sampan. “Terimakasih.
Clay, dimana rumahmu?” kata-kata itu tiba-tiba meluncur dari mulut Dylan,
sebelum ia menyadari apa yang ia katakan, Clarisa sudah menjawab, “Di ujung
perumahan ini. Terakhir kali aku bisa melihat, warna catnya kuning pastel kalau
gak salah. Mampirlah jika ada waktu.”
Hari-hari kemudian mereka jalani bersama sejak
pertemuan pertama itu, Dylan dan Clarisa menjadi sepasang sahabat. Clarisa yang
selalu merasa kesepian sejak kecelakaan 2 tahun lalu yang menyebabkan kedua
matanya buta, merasa terobati dengan kehadiran Dylan yang tak pernah bosan
mendengar keluh kesah Clarisa. Tapi bagaimanapun, Clarisa tak ingin menumbuhkan
harapan dalam hatinya. Perasaan
nyaman di sisi Dylan membuatnya bahagia sekaligus tersiksa, karena ia semakin
tak ingin kehilangan Dylan. Pikir Clarisa, Dylan adalah lelaki yang baik-baik
dan harus bersama gadis yang baik-baik pula, bukan gadis buta seperti dirinya.
Kisah-kisah yang ia ceritakan kepada Dylan hanya sekedar untuk mengeluarkan
batu ganjalan yang membebani hatinya, karena ia percaya bahwa Dylan dapat
menampungnya dengan baik. “Kau menghadapi penderitaan seperti itu sendirian?”
Tanya Dylan setelah Clarisa selesai bercerita. “Mau bagaimana lagi? Hanya aku
yang memiliki kenangan buruk itu.” Jawab Clarisa tenang. “Kecelakaan dua tahun
lalu yang membuatmu kehilangan penglihatan dan kedua orangtuamu. Jika aku ada
di posisimu, aku tidak tahu apakah aku bias bertahan dengan hal seperti itu.
Kau sungguh hebat. Tapi, Clay, tahukah kau? Teman bias membawa beban itu
bersamamu, menjadi lebih ringan tentunya.” Kata Dylan. “Teman? Sejak aku buta,
aku tidak memiliki dan tak ingin memiliki teman.” Balas Clarisa, seraya
tersenyum miris. “Lalu, kenapa kau mau berteman denganku?” Tanya Dylan lagi.
Clarisa terdiam sesaat, lalu menjawab, “Karena aku, percaya padamu.” Dylan
terdiam, Clarisa juga melakukan hal yang sama. Sesaat selama lima belas menit
yang sunyi, mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.
“Clay, aku… aku menyukaimu.” Kata Dylan hati-hati memecah kesunyian. “Bercandamu
tidak lucu, Dylan.” Jawab Clarisa sambil terkekeh paksa. “Aku serius, Clay! Aku
ingin kau bahagia di sisiku.” Balas Dylan. Senyum Clarisa memudar, “Tidak,
Dylan. Jangan mencintai gadis buta sepertiku, Kau pantas mendapat yang lebih
baik dariku.” Kata Clarisa, tubuhnya yang mungil bergetar karena menahan
tangis. “Kau adalah yang terbaik yang Tuhan
berikan kepadaku sejauh ini. Clarisa, kau bilang kau percaya padaku,kan? Jadi,
sekali ini saja, percayalah bahwa aku ingin membuatmu bahagia entah
bagaimanapun caranya. Aku akan melakukan yang kubisa, dan… Aku akan pulang ke
Sidney, sudah cukup waktuku untuk mengunjungi Paman Ferdinan. Aku akan
berangkat besok.” Kata Dylan dengan lembut, buliran bening menyembul dari balik
kelopak mata birunya yang indah. “Apa kau akan kembali?” Tanya Clarisa. “Aku
tidak tahu. Tapi yang pasti, kau bisa mengabariku. Bawalah ini, lihatlah ketika
kau sudah bisa melihat lagi, dan jangan pernah merasa menderita selama aku
pergi. Kumohon.” Pinta Dylan, sambil menaruh selembar potret dirinya dan
Clarisa yang diambil beberapa waktu lalu di tangan Clarisa. Clarisa
menggenggamnya erat-erat.
Sebulan kemudian, Clarisa menatap refleksi dirinya dalam cermin,
tersenyum bahagia ketika mengingat bahwa ia sudah dapat melihat lagi. Matanya
yang semula coklat kelabu kini berganti menjadi sepasang mata biru yang indah
milik sang pendonor. Dalam hati, ia tak henti-hentinya berterima kasih kepada
seseorang yang rela mendonorkan mata untuknya yang bahkan tidak dikenalnya.
Kini, ia dapat melihat wajah tampan Dylan dalam foto itu.
Suara bel pintu mengalihkan perhatian Clarisa dari cermin. Ketika
membuka pintu, berdirilah seorang pria paruh baya berseragam kantor pos. “Dengan
Nona Clarisa Jean Weinberg?” Tanya Tukang pos itu, membaca nama yang tertera
diatas tutup kotak berukuran sedang di tangannya. “Ya. Saya sendiri.” Jawab Clarisa
heran. “Ada kiriman dari Sidney. Tolong tanda terimanya.” Kata Tukang pos itu
dan pergi setelah Clarisa menandatanganinya.
Clarisa membuka kotak itu dan menemukan sekeping kaset di dalamnya,
bertuliskan “Dari Dylan Tertampan”. Clarisa tersenyum, ia sudah lama sekali
menantikan kabar dari Dylan dan ia juga tidak sabar mengabari Dylan tentang
kesembuhan matanya. Tetapi ia masih heran, untuk apa Dylan mengiriminya kaset
ini. Dimasukannya kaset itu ke dalam VCD player. Dan lambat laun, muncullah
foto Dylan dan dirinya, dibawahnya tertulis “Untuk yang terjelek, Clarisa”.
Entah kenapa tiba-tiba ada persaan tidak enak merajai seluruh tubuhnya. Layar
berganti menampilkan sosok Dylan dalam video, lebih kurus dan terlihat lelah
serta pucat, tetapi benar-benar Dylan seperti dalam foto yang di genggam
Clarisa.
“ Halo, Clay! Merindukanku? Hehe. Bagaimana
dengan mata barumu? Aku yakin kau pasti sangat bahagia saat ini. Sudah lihat
wajah tampanku di foto?” Tanya Dylan, memulai monolognya. Clarisa tertawa
kecil melihatnya bergurau. “Clay, sebelum
aku mengatakan apa yang ingin aku katakana kepadamu, aku ingin kau tahu bahwa
aku sangat, sangat, sangat merindukanmu.” Kata Dylan, mulai serius.
“Dengar, Clay,
Awal aku datang ke Venice, aku sudah menyadari bahwa aku tidak akan lama,
karena vonis dokter menyatakan bahwa aku mengidap Leukimia stadium akhir. AKu
fikir sudah tidak ada gunanya lagi melakukan pengobatan, jadi aku memutuskan
untuk menghabiskan waktu dengan mengunjungi sanak saudaraku yang kusayangi,
termasuk Paman Ferdinan di Venice, yang kusuruh mengirimkan video ini
padamu,mungkin lewat pos. Tapi aku tidak pernah menyadari bahwa kedatanganku ke
Venice malah membuatku mendapatkan lebih dari yang ku harapkan di akhir hidupku
yaitu, aku bisa merasakan cinta, Clay. Terlebih
itu kepadamu. Ketidak bahagiaanmu justru membuatku merasa tidak berguna ada di
sisimu saat itu, apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu bahagia? Jadi, Clay,
kau bukan satu-satunya orang yang menderita disini, aku akan menemanimu. Jadi
mari kita akhiri ini semua. Kau harus mendapatkan kembali penglihatanmu agar
kau bahagia, dan aku ingin bahagia dengan membuatmu bahagia. Hanya itu yang
mungkin bisa kulakukan. Sayangnya, Aku tidak bisa menemuimu lagi karena waktuku
tidak banyak. Mungkin aku sudah tiada ketika kau menonton video ini. Tapi aku
sudah meninggalak sebagian diriku dalam dirimu, yaitu persahabatan kita yang
tulus yang kubawa sampai akhir hayatku… dan mataku. Aku ingin kau berjanji satu
hal, jangan gunakan mataku untuk menangis. Seperti yang dulu kubilang, Kau
tidak boleh menderita selama aku pergi. Jadi, jangan menderita selamanya. Kau
harus bahagia. Aku harap aku dapat bertemu dengamu lagi di surga suatu saat
nanti.” Video itu berakhir.
Air mata Clarisa tumpah, ia tidak sanggup berkata apa-apa lagi. Ia ingin
menjerit histeris tapi seolah-olah mulutnya terkunci rapat. Clarisa tersadar
betapa bodohnya ia membiarkan Dylan jauh darinya di saat terkahirnya. Ia tak
pernah menyangka bahwa akhirnya orang yang ia cintai itulah sang pemilik bola
mata biru yang sekarang ada dalam dirinya. Clarisa ingin terus menyalahkan
dirinya yang egois karena berfikir bahwa ia satu-satu orang yang menderita, ia
tersadar selama ini ia tidak pernah mendengar satu kisah pun tentand Dylan
karena selama ini Clarisa yang banyak menceritakan kisah hidupnya pada Dylan.
Tapi kemudian ia teringat permintaan terakhir Dylan. Aku harus bahagia, pikir Clarisa. Mungkin
hanya itulah yang bisa Clarisa lakukan, menjadi bahagia agar Dylan juga bahagia
di jauh sana. Clarisa mengusap air mata yang masih membanjiri pipinya. Ia
termenung sesaat, mulai saat itu ia meyakini bahwa Persahabatan adalah kata
lain dari Cinta. SELESAI.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar